Rabu, 21 Agustus 2013

Spirit Kebangkitan Pertanian



Spirit Kebangkitan Pertanian Melalui Revitalisasi Fungsi Subak
 “Makna kebangkitan nasional kini adalah bagaimana cara membangun kesejahteraan dan kemandirian bangsa”
Indonesia kini sudah memasuki era percaturan global. Lain dengan 20 Mei 1908,105 tahun silam. Rentetan perjuangan dengan gelimang pengorbanan yang tak terhitung berujung pada tercapainya tujuan merdeka pada 17 Agustus 1945 lalu. Dengan kemerdekaan ini, cita-cita kebangkitan nasional sudah tercapai. Lalu bagaimana dengan kondisi saat ini, apakah pesan dari “Hari Kebangkitan Nasional” sudah benar-benar terwujud di segala lini kehidupan Bangsa Indonesia?
Perjalanan kehidupan Bangsa Indonesia telah berada pada arah yang benar. Namun, Bangsa Indonesia kini tengah menghadapi berbagai tantangan khususnya dari kondisi perekonomian dan kesejahteraan. Seharusnya, kebangkitan nasional tidak lagi sebagai sebuah “peringatan” semata, tapi lebih dimaknai melalui upaya nyata. Pemanfaatan sumber daya yang ada sebenarnya mampu memaknai kebangkitan nasional sebagai save our nation. Krisis energi dan pangan kini terus membayangi. Tapi, yang paling ditakuti adalah krisis pangan. Mengapa? Karena Indonesia itu merupakan negara yang sangat kaya akan hasil alam dari pertanian, tetapi masih saja ada orang-orang yang kelaparan di Indonesia.
Ironi Krisis di Negeri Agraris
Kontradiktif memang dengan apa yang terjadi di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa laju pertumbuhan penduduk 2000-2010 mencapai 1,49 persen atau lebih tinggi disbanding periode 1990-2000  yang hanya mencapai  1,45 persen, dengan  jumlah penduduk  berdasarkan  sensus  penduduk  2010  sebanyak  237,56  juta orang.1 Berdasarkan data tersebut, permasalahan serius saat ini adalah terjaminnya kebutuhan penduduk akan pangan. Data-data statistik menggambarkan betapa rentannya sistem ketahanan pangan nasional di negara kita.
Kondisi ketahanan pangan Indonesia yang rentan perlu solusi yang pasti. Jangan biarkan ironi “krisis di negeri agraris” terus menghantui. Lahan pertanian seluas 7,7 ha harus segera dioptimalkan agar masalah krisis pangan terhindari. Canggihnya teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan mampu memberdayakan sektor pertanian hidup kembali. Pembangunan pertanian hendaknya tidak dicederai oleh kebijakan impor pangan yang kini tengah digencarkan pemerintah.
Harapan sektor pertanian Indonesia selain sebagai lumbung pangan nasional, namun sebagai penggerak ekonomi harus terhalangi impor pangan. Sebenarnya impor hanya praktik instan dalam mengamankan stok pangan Indonesia. Padahal dengan optimalisasi peran pertanian, pangan akan tercukupi. Keberlajutan impor pangan akan berdampak buruk pada keuangan negara karena inflasi dan kondisi pertanian dalam negeri.

Membangkitkan Spirit Pertanian
Persoalan yang menarik dalam pemikiran kini, masihkah tetap berpegang teguh pada impor pangan? Apakah kini kita hanya berpikir instan? Lantas, kapan pertanian Indonesia mampu berkembang pesat? Pertanyaan-pertanyaan urgen itu menegaskan bahwa seharusnya kita segera keluar dari belenggu tersebut, dan berpikirlah kondisi riil yang akan terjadi pada pertanian Indonesia ke depan.
Pertanian di Indonesia hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang maksimal. Padahal, seckor ini mempunyai peran penting dalam pembangunan perekonomian nasional. Namun, sektor ini lemah dari perhatian pemerintah. Mulai dari proteksi, kredit hingga kebijakan lain tidak satupun yang menguntungkan bagi sektor ini. Program- program pembangunan pertanian yang tidak terarah tujuannya bahkan semakin menjerumuskan sektor ini pada kehancuran. Sehingga, semangat optimis kebangkitan pertanian harus segera dibangun.
Spirit kebangkitan merupakan modal pembangunan pertanian Indonesia. Pembangunan ini sangat penting karena alasan seperti potensi sumber daya alam yang besar dan beragam, besarnya pangsa terhadap ekspor nasional, besarnya penduduk Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini, perannya dalam penyediaan pangan masyarakat, dan menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Oleh sebab itu, pemerintah sekarang ini hendaknya bukan hanya memberdayakan petani tetapi juga terhadap sektor pertanian secara keseluruhan.
Pembangunan pertanian tidak hanya dihadapkan pada tuntutan demokratisasi yang mengarah pada otonomi, namun juga tantangan globalisasi dunia. Oleh karena itu, pembangunan pertanian tidak saja dituntut untuk menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi namun juga mampu mengembangkan pertumbuhan daerah serta pemberdayaan masyarakat. Ketiga tantangan tersebut menjadi sebuah kerja keras bagi kita semua apabila menginginkan pertanian kita menjadi pendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan dapat menjadi motor penggerak pambangunan bangsa. Upaya mewujudkannya dapat melalui pemberdayaan kearifan lokal yang telah mengakar di masyarakat.

Revitalisasi Fungsi Subak sebagai Strategi

Strategi pembangunan pertanian di Indonesia melalui kearifan lokal merupakan solusi cerdas saat ini. Memposisikan kearifan lokal di tengah permasalahan bangsa dan tergerusnya budaya adat istiadat asli ditengah globalisasi bagaikan pelepas dahaga di gurun pasir. Penguatan sistem kelembagaan tani mampu menggiatkan kembali denyut pertanian yang melemah seperti melalui peran dan fungsi subak di Bali.
Subak di Bali telah diakui keberadaannya oleh dunia melalui pengakuan sebagai warisan dunia. Akan tetapi, permasalahan-permasalahan kini muncul. Subak selama ini memiliki fungsi dan peran yang terbatas sehingga tidak mampu mempertahankan pertaniannya. Nilai-nilai subak yang masih relevan saat ini hanya dalam sistem irigasinya, namun sistem lainnya sudah melemah sehingga diperlukan suatu penguatan nilai-nilai
Subak perlu direvitalisasi atau diberdayakan bukan saja organisasinya atau kelembagaannya tetapi yang lebih penting adalah para anggotanya agar menjadi lebih sejahtera dari segi ekonomi melalui peningkatan fungsi dan peran subak. Dengan demikian diharapkan Subak akan menjadi lebih kuat dan mandiri sehingga tangguh hidup (viable) menghadapi dinamika perubahan zaman. Keterbatasan fungsi dan peran dari Subak merupakan permasalahan dasar yang pada akhirnya berdampak pada alih fungsi lahan  yang terus menerus terjadi sehingga produktivitas pertanian dalam ketahanan pangan semakin menurun.
Peningkatan fungsi subak menuju ketahanan pangan yang berlandaskan pertanian berkelanjutan berdasarkan kearifan lokal yang berkembang merupakan hal yang diharapkan sekarang ini. Konsep ini memadukan beberapa fungsi tambahan pada subak sehingga  fungsi  yang  hanya  pada  irigasi  menjadikan  subak  multifungsi.  Sehingga, revitalisasi  fungsi  subak  ini  mampu  meningkatkan  fungsi  dan  perannya  dalam meningkatkan kesejahteraan petani.
Revitalisasi fungsi dari subak yaitu: (1) fungsi kelembagaan yang holistik, fungsi ini lebih mengarah pada penguatan subak tersebut dari segi hokum dan organisasi , (2) fungsi ekonomi, fungsi ini lebih mendorong pada peran subak dalam mengembangkan agribisnis dan   pengembangan perekonomian petani, (3) fungsi ramah lingkungan, mengembangkan pertanian organic dan memantau adanya pencemaran, (4) fungsi teknologi yaitu fungsi subak dalam menerapkan teknologi dan informasi, dan (5) fungsi budaya dan kearifan local merupakan fungsi mempertahankan esensi subak dalam budaya Bali. Strategi yang diperlukan untuk mewujudkannya yaitu dengan partisipasi masyarakat tani, subak dan pemerintah sehingga mampu meningkatkan ketahanan pangan dan peningkatan perekonomian bangsa.
Penerapan revitalisasi dalam fungsi subak akan lebih mengedepankan peningkatan ekonomi pertanian atau pendapatan petani melalui agribisnis yang dikembangkan sehingga akan meningkatkan kesejahteraan anggota subak. Selain itu, revitalisasi fungsi subak mampu memperkenalkan pertanian berkelanjutan sehingga nantinya sektor pertanian akan kembali menjadi tumpuan utama pendapatan negara dan sentral ekonomi Indonesia serta terwujudnya kembali swasembada pangan.
Penguatan subak dalam pembangunan sektor pertanian hingga terwujudnya ketahanan pangan, swasembada dan penguatan perekonomian nasional adalah wujud nasionalisme dalam menyongsong kebangkitan nasional. Peran kearifan lokal sangat penting karena mampu menggali kembali semangat nasionalisme. Hal seperti inilah yang diharapkan mampu untuk mengisi pembangunan bangsa. Sehingga, melalui kebangkitan nasional kita sudah selayaknya menerapkan nilai-nilai kearifan lokal.
Kebangkitan pertanian adalah kunci utama parameter kebangkitan nasional di era sekarang ini. Upaya ini hendaknya tidak termasuk “program sekali jalan” – yang sekali dilaksanakan langsung mendapatkan hasil. Diperlukan komitmen dan dedikasi yang luar biasa untuk memulai dan melanjutkannya. Di tengah carut marut urusan negara, memang upaya ini terlihat terlalu idealis. Namun dalam kondisi yang serba tidak ideal sekalipun, kita harus selalu berusaha berpikir, berkata, dan berbuat secara ideal apabila negeri ini tidak ingin dijuluki sebagai negara agraris yang krisis.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar