Senin, 09 September 2013

140 Negara Siarkan Kebudayaan Indonesia



140 Negara Siarkan Kebudayaan Indonesia Melalui Miss World
 “Jika ternyata Miss World digelar tanpa bikini, Jadi ajang promosi kebudayaan dan pariwisata indonesia.  Siapkah FPI dan Pemerintah membuat ajang kebudayaan tanpa korupsi dan kekerasan seperti Miss World?”
Saya tidak ingin ikut berpolemik dalam debat ketat soal Miss World, apalagi ini merambah pada wilayah agama, moral dan sebagainya, karena apa yang dikhawatirkan dan didengungkan sebagai elemen masyarakat soal Miss World tidak terjawab, bahkan terbantahkan dengan pembukaan Miss World di Nusa Dua, Bali beberapa waktu lalu.
Kebaya, Batik, Tarian Tradisional dan lagu daerah Indonesia menjadi sorotan dunia, 140 Menyiarkan apa yang Indonesia miliki, tidak melulu soal kekerasan, teroris dan korupsi, mata dunia sedikit terbuka bahwa Indonesia adalah negara dengan ribuan pulau, suku dan bahasa daerah terbanyak di dunia sedang mencoba memperkenalkan diri sebagai negara yang kuat dan siap menjadi Negara Besar.
Publik membuktikan sendiri, tidak ada ajang bikini dalam gelaran internasional tersebut, bahkan taburan kemegahan bernuansa kebudayaan tersebut mendapatkan apresiasi dari masyarakat di berbagai belahan dunia. melampaui ekspektasi gelaran serupa di tanah air.
Jika benar penolakan tersebut atas nama ketidaksesuain agama dan budaya, kita berharap elemen masyarakat tersebut membuktinnya saat ini. sehingga ke depan, persoalan serupa tidak terjadi. dimana ajang-ajang internasional yang seharusnya digelar di Indonesia yang bertujuan untuk membawa bangsa ini lebih baik tidak disambut dengan sikap skeptis tanpa dasar, kebencian yang disebarluaskan melalui simbol-simbol agama, bahkan menyerempet ke arah kepentingan politik satu kelompok tertentu.
Saya hanya tidak habis pikir, bagaimana demo-demo yang dimotori oleh FPI, ancama perang dan intimidasi lainnya bisa dibiarkan terjadi di negeri atas nama agama. saya seorang muslim, tapi saya percaya fitnah dan berburuk sangka tanpa dasar juga merupakan bagian dari dosa besar, bahkan sering kita menyebut Fitnah lebih kejam dari pembunuhan.
Artinya, apa yang disangkakan oleh FPI tersebut dibuktikan penyelenggara dengan fair dan transparan oleh pihak penyelenggara, tidak ada bikini, bahkan Miss World menjadi ajang kebudayaan yang Pemerintah sendiri tidak mampu melakukkannya.
Paling menjadi tanya adalah, dengan sangkaan yang tidak terbukti tersebut, FPI dengan mudah memfatwakan haram, logika berfikir mana bila sudah memfitnah selanjutnya diteruskan dengan Fatwa haram? apakah FPI sanggup memfatwakan diri Haram bila ternyata ajang Miss World sampai akhir nanti tidak melanggar norma dan budaya bangsa? bila tidak, sesungguhnya untuk siapa FPI bekerja, berteriak menghakimi seseorang atas nama Agama.
lebih bodohnya, Pemerintah tak berdaya, malah ikut-ikutan latah kehilangan perannya sebagai pemimpin dari seluruh agama, suku dan budaya di negeri ini.  alasan yang sama, Pemerintah membatalkan Miss World yang seharusnya di gelar di Sentul, Bogor.
Soal Pemerintah, ada pertanyaan usil di benak saya, saat pagelaran Miss World yang dibuka beberapa hari lalu di Nusa Dua, Bali, saat 140 Negara menyiarkan Batik, Ulos, Kabaya, dan kebudayaan daerah-daerah lain di Nusantara.  Pemerintah kemana? bukankah ajang promosi ini menjadi tanggung jawab Pemerintah?
sementara, bila kita tilik, anggaran Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam pagu anggarang RAPBN TA 2013 ditetapkan sebesar Rp, 2,052 Triliun, bahkan Kemenparekraf mengajukan penambahan kembali sebesar Rp. 811,411 Miliar yang alokasinya untuk inisiatif baru Rp. 694,061 Miliar. Apec 2013 menelan biaya Rp. 78,750 miliar dan pengembangan destinasi pariwisata Rp 38,6 miliar.
Kemana anggaran besar yang dimiliki pemerintah tersebut? toh kunjungan dan perbaikan infrastruktur pariwisata indonesia lebih banyak dikelola pihak swastas. Promosi? untuk ajang sekelas Miss World saja pemerintah tidak terlibat sama sekali, bahkan ikut-ikutan dengan cara berfikir ‘ketakutan’ yang diusung oleh kelompok-kelompok yang selalu mengatasnamakan agama. Publiklah yang menjawab. semoga kita terbebas dari politisasi miss world, fatwa haram dan fitnah serta kebodohan pemerintah yang tak berdaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar